Wujud tikus berubah saat berdampingan dengan manusia

photo : beritagar

 

Hewan yang hidup berdampingan dengan manusia punya sejumlah perbedaan dengan hewan sama yang hidup di alam. Misalnya anjing peliharaan dan anjing liar. Ini disebabkan oleh proses domestikasi yang biasa terjadi pada hewan dan tumbuhan.

Kini, sebuah studi terbaru mengenai tikus liar menunjukkan bahwa kelompok hewan tersebut juga dapat mengalami tanda-tanda domestikasi.

National Geographic menjelaskan bahwa domestikasi lebih kompleks daripada sekadar melatih seekor binatang agar jinak terhadap manusia. Sebaliknya, kualitas yang membuat hewan ramah terhadap manusia berkembang selama proses interaksi beberapa generasi antara hewan dengan manusia.

Domestikasi sering dianggap sebagai sesuatu yang dipraktikkan oleh manusia.

Sejarah tentang bagaimana hewan mengubah penampilan selama proses domestikasi bermula dari eksperimen di Siberia pada tahun 1950-an.

Periset menemukan bahwa ketika mereka mengambil rubah liar dan hanya mengembangbiakkan individu yang jinak, rubah kemudian terlihat mulai mengembangkan ciri khas fisik seperti anjing. Ekor melingkar, ukuran kepala yang lebih kecil, dan telinga yang tidak lagi tegak.

Hampir 100 tahun sebelumnya, Charles Darwin telah menyebut rangkaian sifat “sindrom domestikasi” seperti di atas. Tetapi yang masih menjadi pertanyaan adalah bisakah ciri-ciri ini muncul tanpa adanya campur tangan manusia? Studi terbaru yang dilakukan periset dari University of Zurich di Swiss membuktikan bahwa jawabannya bisa.

Tim periset telah berhasil membuktikan untuk pertama kalinya bahwa tikus liar yang tinggal berdampingan dengan manusia memiliki tampilan berbeda dalam periode satu dekade.

Hasil ini dapat memberi petunjuk bagaimana domestikasi dimulai pada hewan lain seperti yang paling umum pada anjing.

Sebenarnya studi ini diawali ketidaksengajaan.

Pada tahun 2002 ketika para ilmuwan mempelajari perilaku tikus dan transmisi penyakit, mereka menangkap selusin tikus liar di sebuah lumbung di Illnau, Swiss. Hewan-hewan tersebut datang dan pergi, bersarang dan kawin.

Tikus-tikus ini ditempatkan dalam lumbung baru yang aman dari predator. Lumbung dilengkapi makanan dan air yang disediakan para peneliti setiap beberapa minggu sekali.

Tampaknya mereka tidak keberatan dipelihara, populasinya terus tumbuh menjadi hingga berjumlah sekitar 250-430 ekor. Beberapa bahkan mulai berani berlari di atas sepatu para peneliti, tidak bergegas pergi layaknya sifat tikus liar pada umumnya.

Empat tahun kemudian para periset menemukan bahwa tikus (Mus musculus domesticus) yang tinggal di lumbung tersebut mulai mengeluarkan bercak putih pada bulu cokelat mereka. Moncongnya juga berubah jadi lebih pendek dalam rentang waktu sepuluh tahun.

Padahal tidak dilakukan usaha untuk melakukan pengembangbiakan selektif dalam proses ini. Satu-satunya intervensi yang dilakukan hanya pemberian makanan dan air.

“Tikus tersebut secara bertahap kehilangan rasa takut dan mengembangkan tanda domestikasi. Ini terjadi tanpa seleksi manusia, semata-mata akibat berhadapan dengan kami secara teratur,” kata pemimpin studi Anna Linndholm.

Fenomena sindrom domestikasi ini, merupakan kasus di mana sifat dan bahasa fisik hewan peliharaan berubah setelah hidup berdampingan dengan manusia. Misalnya, anjing dan babi cenderung mengembangkan telinga yang terlipat dan bercak putih di tubuh mereka, serta moncong yang biasanya memendek.

Perubahan fisik karena intervensi manusia telah diamati sebelumnya pada hewan seperti rubah Siberia. Namun dalam kasus ini perubahan terjadi karena hasil pengembangbiakan selektif guna mewujudkan sifat tertentu, seperti keramahan.

Transformasi kerap dikaitkan dengan sel punca pada embrio yang disebut neural crest yang memengaruhi sifat perilaku dan sifat fisik secara paralel. Jadi dengan memilih hewan pemalu dan pengembangbiakannya, peneliti secara tidak sengaja memberikan dampak pada penampilan fisik mereka.

Tapi tikus liar dipilih secara acak. Menurut Lindholm, domestikasi diri oleh tikus itu sendiri menyebabkan perubahan bertahap dalam penampilan mereka secara kebetulan dan tidak sengaja seperti perkembangbiakan selektif rubah Siberia. Para peneliti berencana untuk melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui perubahan perilaku dan fisik hewan tersebut saat mereka hidup dekat dengan manusia.

Source :

beritagar

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


eleven + 11 =