Sawahlunto Menuju Kota Berwarisan Budaya yang Diakui UNESCO

Sumber : Sapto Andika Candra/ Republika

 

DEPOK — Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) bersama Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kemendikbud mengadakan seminar bertajuk Sawahlunto Menuju Kota Wisata Tambang Berbudaya pada Rabu (5/12). Seminar ini juga dihadiri oleh Wakil Wali Kota Sawahlunto, Zohirin Sayuti.

Sawahlunto adalah daerah di Indonesia yang memiliki potensi sumber daya alam yang besar. “Di tahun 1858, ditemukan deposit batu bara dalam jumlah besar oleh De Groot dan dilanjutkan WH De Greve di Cekungan Ombilin, Sawahlunto, Sumatra Barat,” kata Zohirin, dalam paparannya, Rabu (5/12).

Penemuan ini, lanjut Zohirin, menarik minat Pemerintah Belanda karena mereka melihat potensi dan nilai yang sangat besar dari sumber batu bara tersebut. Pemerintah Belanda merancang proyek terintegrasi yang disebut ‘Tiga Serangkai’, yaitu kota tambang, jalur transportasi, dan pelabuhan.

Zohirin menggambarkan sebelum penambangan, daerah Sawahlunto merupakan hamparan persawahan di tengah lembah dan mengalir Sungai Lunto. Pada 1894 penambangan dilakukan seiring dengan pembangunan infrastruktur kota.

“Pembangunan infrastruktur kota sebagai penunjang proses tambang sejak tahun 1894 hingga lengkap sebagai sebuah kota pertambangan pada 1930,” kata Zohirin.

Hingga saat ini, tercatat 119 cagar budaya di Kota Sawahlunto. Sebanyak 68 cagar budaya ditetapkan pada tahun 2007, enam cagar budaya ditetapkan tahun 2014, dan 45 cagar budaya ditetapkan tahun 2017.

Jumlah pengunjung Museum Tambang Sawahlunto di Sumatra Barat melonjak hingga lima kali lipat pada libur panjang kemerdekaan.

Pemerintah Kota Sawahlunto terus menjaga kelestarian warisan sejarah dan budaya yang ada di wilayahnya. Beberapa warisan yang direvitalisasi antara lain adalah Komplek Dapur Umum atau Rumah Ransum (Museum Goedang Ransoem) dan Lubang Tambang Mbah Soero.

Sawahlunto pada tahun 2018 ini sedang dalam proses penilaian kota industri batu bara masa lalu sebagai warisan budaya dunia yang diakui oleh UNESCO. Terkait hal ini, ada tiga area di dalamnya sebagai pendukung dalam kota industri batu bara masa lampau.

Pendukung dalam kota tersebut adalah tambang batu bara, sarana prasarana yang ada di Sawahlunto, serta transportasi perjalanan rel kereta api untuk pengangkutan batu bara. Selain itu, daerah di sekitar Sawahlunto yang menjadi daerah pendukung industri seperti Kabupaten Tanah Datar, kota Padang Panjang, dan Kabupaten Padang Pariaman termasuk daerah distribusi batu bara hingga Teluk Bayur juga menjadi pendukung industri batu bara masa lampau.

Sementara itu, Kepala Seksi Dinas Kebudayaan, Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto, Rahmat Gino Sea Games menjelaskan visi dan rencana pengelolaan warisan budaya tersebut. Ia mengatakan, warisan budaya akan dilindungi dan dilestarikan sebagai pernyataan luar biasa yang mendunia.

“Yaitu, himpunan teknologi sistem industri yang saling terhubung berupa lokasi pertambangan, perkeretaapian dan fasilitas pelabuhan untuk penambangan dan distribusi batu bara sumber energi paling penting pada abad ke-19 dan awal abad ke-20,” kata Rahmat.

Ia mengatakan, atribut yang merepresentasikan tiga himpunan teknologi itu akan diintepretasikan dan dapat dijangkau oleh generasi masa kini dan masa depan. Hal ini dilakukan agar seluruh masyarakat dapat memahami kejeniusan melalui bukti sejarah pencapaian yang unik di wilayah Smatera Barat dan signifikansinya bagi perkembangan teknologi tambang dunia.

Lokomotif Uap Sawahlunto
Source :

Republika

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


twenty + one =